Minggu, 21 Desember 2025

 Kasus gugatan cerai Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil menarik perhatian publik bukan semata karena aspek personal, tetapi karena posisi keduanya sebagai figur publik nasional. Sikap Atalia yang memilih berbicara sangat singkat, tanpa klarifikasi substansi, menunjukkan strategi komunikasi yang hati-hati: menjaga privasi, menghindari eskalasi spekulasi, sekaligus mempertahankan citra publik sebagai pejabat negara. Permintaan doa menjadi simbol pendekatan emosional yang menenangkan, alih-alih konfrontatif.

Di sisi lain, proses hukum yang masih berada pada tahap administratif dan mediasi menandakan bahwa perkara ini belum memasuki konflik terbuka di ruang publik. Absennya kedua pihak dalam sidang perdana memperkuat kesan bahwa penyelesaian masih diupayakan secara tertutup dan prosedural. Secara keseluruhan, pemberitaan ini merefleksikan ketegangan antara ranah privat dan ekspektasi transparansi terhadap figur publik, di mana kehati-hatian komunikasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas reputasi dan fokus pada proses hukum yang berjalan.




Pemkab Cianjur?

 Fenomena mundurnya enam pejabat strategis di lingkungan Pemkab Cianjur tentu patut menjadi perhatian serius. Pergeseran dari jabatan struktural ke fungsional memang sah secara administratif, tetapi jika terjadi berulang dan melibatkan banyak pejabat kunci, publik wajar mempertanyakan kondisi internal birokrasi. Apakah ini murni pilihan profesional, atau ada persoalan manajerial dan iklim kerja yang perlu dibenahi? Pemerintah daerah seharusnya lebih transparan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga, mengingat stabilitas OPD sangat berpengaruh pada kualitas pelayanan publik.


Link :  Pejabat Pemkab Cianjur Mundur dari Jabatan Bertambah Jadi 6 Orang

TEST POST

 TEST POST

 Kasus gugatan cerai Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil menarik perhatian publik bukan semata karena aspek personal, tetapi karena posisi...