Minggu, 21 Desember 2025

 Kasus gugatan cerai Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil menarik perhatian publik bukan semata karena aspek personal, tetapi karena posisi keduanya sebagai figur publik nasional. Sikap Atalia yang memilih berbicara sangat singkat, tanpa klarifikasi substansi, menunjukkan strategi komunikasi yang hati-hati: menjaga privasi, menghindari eskalasi spekulasi, sekaligus mempertahankan citra publik sebagai pejabat negara. Permintaan doa menjadi simbol pendekatan emosional yang menenangkan, alih-alih konfrontatif.

Di sisi lain, proses hukum yang masih berada pada tahap administratif dan mediasi menandakan bahwa perkara ini belum memasuki konflik terbuka di ruang publik. Absennya kedua pihak dalam sidang perdana memperkuat kesan bahwa penyelesaian masih diupayakan secara tertutup dan prosedural. Secara keseluruhan, pemberitaan ini merefleksikan ketegangan antara ranah privat dan ekspektasi transparansi terhadap figur publik, di mana kehati-hatian komunikasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas reputasi dan fokus pada proses hukum yang berjalan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Kasus gugatan cerai Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil menarik perhatian publik bukan semata karena aspek personal, tetapi karena posisi...